Santri Leteh on Fire
Rembang – Langit yang terlihat gelap di waktu maghrib,
tiba-tiba terlihat begitu terang dengan warna orange pekat disertai kepulan
asap yang beitu tebal. Ya, terjadi sebuah kebakaran di Jalan Majapahit Rembang
Kota. Kebakaran tersebut terjadi disebuah bengkel. Berita Kebakaran Bengkel Rembang.
Ini adalaha pengalaman yang kedua bagi santri leteh untuk
mengatasi kebakaran. Yang pertama ketika bangunan rumah disebelah timur asrama
putra yang mengalami kebakaran karena meletusnya tabung LPG 3 Kg. yang kedua
ini masih belum diketahui penyebabnya. Kebakaran ini terjadi disebelah timur
asrama putri. Jarak antara titik api dengan asrama hanya +/- 10 meter. Sontak para
santri putri berhamburan keluar dengan kepanikan yang tidak bisa diatasi lagi. Santri
putra berduyun-duyun menuju asrama putri untuk menghalau api yang cepat
merambat untuk memakan bangunan. Hal itu dikarenakan banyaknya bahan yang mudah
terbakar didalam bengkel.
Memang, para santri tidak pernah mengikuti simulasi tindakan
pertama pada bencana alam atau tragedi kebakaran seperti ini. Namun, para
santri ini layaknya seorang yang sudah dilatih secara profesional untuk
menempatkan diri masing-masing dalam posisinya. Ya, kami secara otomatis
menempatkan diri pada posisinya tanpa di koordinir. Kami membentuk sebuah barisan
estafet untuk mengangkat ember berisi air. Kami para santri juga dibantu oleh
warga sekitar.
Dalam kobaran semangat para santri untuk memadamkan api,
begitu pula si jago merah itu semakin kuat kobarannya, dalam hati aku hanya
bisa bergetar ketika melihat begitu dahsyat kuasa Allah yang bisa bertindak
atas kuasaNya. Bergetar dan tak tahan hati ketika aku mendengar adzan yang
dikumandangkan dari Masjid Agung Rembang yang sangat keras sekali, hal serupa
juga dilakukan oleh salah seorang santri yang tidak jauh dari titik kobaran
api. Ya Allah, aku begitu takut melihat kuasa Mu. Ketika itu, aku berada di
atas KM. Asrama putri (+/- 10 meter dari titik api) merasakan begitu panasnya
api dunia Mu. Belum lagi dengan api neraka Mu Allah.
Dalam kumandang adzan itu, api berkobar bak setan yang
merasa kepanasan dengan adzab Tuhan. Atas izin Allah, api mulai untuk bisa di
jinakkan. Kejadian dari pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB pun mobil pemadam
kebakaran masih berdatangan. Pada saat itulah, para senior santri memberikan
status aman 90 %. aku dengan rekan-rekan yang lain kembali ke asrama putra
untuk membersihkan diri. Dan, alhasil aku baru merasakan rasa pegal, perih, dan
rasa yang menyiksa pada tubuh ini pasca tragedi tersebut. Wallahu a’lam.
Foto ini di ambil pasca memadamkan api
diambil dari depan asrama putra



0 komentar: